Sejarah Dakwah Mbah Buyut H. Noloyudho Di Desa Sumberrejo

Bagaimana Awal Mula Adanya Desa Penthol?

Desa Sumberrejo terletak di Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik. Menurut cerita yang didapatkan, Desa Sumberrejo dulunya sangat dikenal dengan nama Desa Penthol. Para keturunan desa ini sering disebut wong Penthol atau orang Penthol. Awal mula kata Penthol ini dijadikan nama desa adalah dikarenakan pada zaman dulu, banyak tumbuh pohon tanjang di sekitar desa. Pohon tanjang adalah sejenis mangrove yang buahnya disebut dengan buah Penthol. Pohon ini lebih dikenal dengan nama bakau pasir.

Menurut cerita orang-orang dulu, nama Penthol didapatkan oleh Mbah Buyut H. Noloyudho ketika bertapa di bawah naungan pohon tanjang. Pada saat bertapa, beliau mendapatkan isyarat yaitu jatuhnya buah Penthol dari pohon tersebut. Lalu beliau menggunakan nama tersebut untuk desa ini. Banyak sekali artian mengenai kata Penthol yang digunakan tersebut. Diantaranya yaitu sebagai bentuk tafa’ul yang berarti doa isyarat yaitu dengan harapan agar penduduk dan keturunan Desa Penthol ini bermanfaat dan menjadi orang hebat dimanapun berada. Ada juga yang mengartikan bahwa buah Penthol adalah harapan agar penduduk dan keturunan Desa Penthol dapat menthol (menonjol) dimanapun berada. Sedangkan menurut cerita lain, kata Penthol itu berasal dari blangkon yang digunakan oleh Sunan Kalijaga. Diketahui di belakang blangkon tersebut terdapat Pentholan dan akhirnya digunakan untuk nama Desa ini.


Menurut ceritanya, awal mula adanya Desa Penthol ini adalah karena tidak terpilihnya Mbah Buyut H. Noloyudho sebagai kepala desa di Betoyo. Kemudian beliau memutuskan untuk mbabat alas dan mendirikan desa sendiri. Ada juga sesepuh yang mengatakan bahwa alasan beliau mendirikan desa Penthol ini karena malu akibat kekalahan dalam pemilihan desa, ada juga yang mengatakan karena perselisihan dan ada yang berpendapat bahwa hal ini bukan dikarenakan masalah politik, melainkan karena misi dakwah Islam. Terlepas dari apapun alasan beliau dalam mendirikan Desa Penthol ini, kita harus bisa menyikapi dengan baik yaitu selalu berprasangka baik  dan mengartikan bahwa tujuan beliau adalah karena sebuah misi dakwah Islam dan ingin meneruskan keturunan yang baik.


Seiring berkembangnya zaman, nama Penthol banyak menjadi olok-olokan masyarakat luar desa. Seperti Penthol yang identik dengan nama jajanan pentol, dan ada juga yang memlesetkannya dengan alat kelamin laki-laki. Selain itu para perangkat desa lain juga banyak yang mengejek nama Penthol saat rapat di pendopo kecamatan. Hal ini menjadikan para sesepuh desa mengubah nama Penthol menjadi Sumberrejo atas usulan dari seorang kiai dan waliyullah yaitu K.H. Abd. Mughni. Nama Sumberrejo diambil dengan harapan masyarakat Sumberrejo bisa mendapat sumber kemakmuran.


Namun agaknya, banyak masyarakat Sumberrejo yang menolak adanya pergantian nama tersebut. Dengan alasan bahwa “Wong Penthol iku sekti” yang berarti orang Desa Penthol adalah orang yang sakti. Meskipun demikian, nama Penthol tetap dirubah menjadi Sumberrejo dan digunakan hingga sekarang.


Siapakah Mbah Buyut H. Noloyudho?

Mbah Buyut H. Noloyudho adalah seorang tokoh yang dipercaya oleh masyarakat sebagai pendiri dari Desa Penthol. Beliau adalah keturunan dari Mbah Kanjeng Sunan Drajat. Yang tepatnya adalah cucu kandung dari Mbah Sunan Drajat. Ayah beliau bernama Mbah Buyut H. Nur Hasyim yang merupakan putra dari Mbah Kanjeng Sunan Drajat. Dari informasi yang diambil, saudara Mbah Buyut H. Noloyudho adalah Mbah Buyut Mulyo yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Buyut Singoyudho.


Mbah Buyut H. Noloyudho memiliki seorang istri yang bernama Siti Fatimah. Dari pernikahannya tersebut beliau dikaruniai 6 orang anak yang bernama Mulyo, H. Sholeh, H. Umar, Zaenab, H. Ibrohim, dan Khotimah. Mbah Buyut H. Noloyudho diketahui wafat di Makkah saat melaksanakan ibadah Haji bersama dengan istrinya. Dan menurut ceritanya, ada seorang keturunan Mbah Buyut H. Noloyudho yang pernah melihat makam beliau ketika melaksanakan ibadah Haji. Terdapat makam yang bertuliskan Noloyudho dari Jawa.


Bagaimana Strategi yang Digunakan dalam Berdakwah?

Sebagai keturunan dari Mbah Kanjeng Sunan Drajat, Mbah Buyut H. Noloyudho meneruskan perjuangan dari kakeknya yaitu menyebarkan ajaran agama Islam. Awalnya Mbah Buyut H. Noloyudho bersama saudaranya datang ke Desa Betoyo yang letaknya ada di sebelah timur Desa Sumberrejo yaitu dengan tujuan berdakwah dan mengajarkan agama Islam. Karena pada saat itu kebanyakan masyarakat disana mempunyai kepercayaan animisme dan dinamisme. Namun akhirnya beliau memutuskan untuk membabat alas di sebelah Desa Betoyo yang sekarang dikenal dengan nama Desa Sumberrejo.


Mbah Buyut H. Noloyudho dan para sesepuh Desa Sumberrejo cenderung menggunakan ilmu tasawwuf dan tirakat. Masyarakat Desa penthol juga dipercaya adalah seseorang yang sangat alim-alim. Banyak orang luar dari desa yang mengaji atau berguru pada sesepuh Desa Penthol ini. Namun seiring berkembangnya zaman, masyarakat Sumberrejo membutuhkan ilmu syari’at. Kemudian didatangkanlah Mbah Irsyad yang merupakan ulama’ keturunan Sunan Bonang.


Diketahui jika pada zaman dulu, masyarakat desa Penthol ini masih banyak yang belum melaksanakan sholat. Kemudian Mbah Buyut H. Noloyudho menggunakan strategi dakwah yaitu dengan mendirikan masjid sebagai pusat perkumpulan kegiatan Islam bagi masyarakat. Selain itu beliau juga mendirikan bangunan sekolah dan pondok pesantren sebagai tempat membina ilmu. Beliau mengajak masyarakat untuk mengaji bersama di pondok pesantren yang terletak di sebelah utara masjid. Setelah beberapa proses yang lama, pada akhirnya banyak dari masyarakat yang mau menerima islam dan mau menjalankan sholat.


Selain mendirikan masjid, beliau juga mendirikan langgar wedok yang dikhususkan untuk tempat kegiatan keagamaan perempuan dan langgar lor yang digunakan sebagai tempat keagamaan masyarakat lor atau pesawahan. Selain itu cara berbusana keseharian masyarakat  juga sangat mencerminkan keislaman yaitu selalu membiasakan menutup aurat baik laki-laki maupun perempuan. Hal ini akan terlihat jelas ketika setelah waktu ashar.


Apa Saja Peninggalan yang Ditemukan?

Ditemukannya bangunan masjid. Beliau mendirikan masjid sebagai pusat perkumpulan kegiatan Islam bagi masyarakat Desa Sumberrejo yang dikenal dengan nama “Masjid Jami’ Baitul Muttaqin”.

Adanya bangunan sekolah dan pondok pesantren. Selain bangunan masjid, ditemukan juga bangunan sekolah dan pondok pesantren sebagai tempat membina ilmu bagi anak-anak. Namun ada kalangan tertentu yang tidak menyukai hal ini sehingga para sesepuh memindahkan pembelajarannya ke rumah K. H. Umar Syatho Jamaluddin yaitu dalam bentuk mengaji setelah maghrib dan shubuh.

Langgar wedok. Sesuai dengan namanya, langgar ini digunakan sebagai perkumpulan keagamaan para kaum perempuan saja.

Langgar lor. Tempat ini dibangun sebagai tempat perkumpulan keagamaan masyarakat lor atau pesawahan.


Bagaimana Respon Masyarakat tentang Adanya Dakwah Islam Tersebut?

Dari cerita yang didapatkan, diketahui bahwa perkembangan Islam di Desa Penthol ini sangat pesat. Banyak masyarakat yang mudah dalam menerima ajaran agama Islam. Meskipun begitu, ada sebagian orang yang menentang atau sulit menerima ajaran ini. Namun hal itu tidak mematahkan semangat para sesepuh desa dalam menyebarkan agama Islam. Para sesepuh membawa ajaran Islam yaitu dengan perlahan dan tidak ada paksaan serta mengikuti kebudayaan baik yang ada. Seperti jika ada perkumpulan maka disisipkanlah nilai-nilai keagamaan atau keislaman. Diketahui jika nilai-nilai keislaman yang ada di desa ini sangat kental sekali. Seperti pada bacaan Rothibul Haddad, serta sholawat-sholawat yang dipercaya didapatkan dari tirakat yang dilakukan oleh para sesepuh desa.

Komentar